Ilmu Hakekat (tasauf) adalah suatu ilmu laduni, siapa yang mengingkarinya akan mendapat siksa, siapa yang tidak mengetahuinya kemungkinan bisa mati sesat.


Menurut syarah kitab Al-Hikam, Ibnu Ruslan mengemukakan pendapatnya bahwa yang dimaksudkan dengan Ilmu Hakekat itu adalah suatu Ilmu Laduni yang bersifat “Nurani”. Ilmu itulah yang telah diajarkan kepada semua roh-roh (di alam roh) sewaktu Tuhan berbicara kepada roh-roh itu “ALASTU BIRABBIKUM?” (bukankah Aku ini Tuhanmu?). Maka segala rohpun menjawab “BALAA YA RABBI” (benar ya Tuhanku). Itu pula yang pernah diajarkan kembali kepada Nabi Adam a.s. sebagai mana firman-Nya “Wa’allama aadamal asma’akullaha” (Allah telah ajarkan kepada Adam semua nama-nama).

Ilmu ini termasuk tersembunyi karena pada umumnya perhatian manusia hanya tercurah kepada keadaan yang gelap yaitu hanya pada dunia/lahirnya saja, lebih mementingkan hawa nafsunya sendiri daripada mencari Ke-Ridhaan Allah.

Apabila semua kegelapan itu telah hilang/sirna maka nyatalah hakekat itu dengan terang dan jelas. Ini juga yang dimaksudkan dari Hadis Rasulullah “ siapa yang mengamalkan ilmunya, Allah wariskan kepadanya ilmu yang belum pernah diketahuinya/dipelajarinya sebelum itu”. Allah berikan taufiq kepadanya, akan dihormati oleh segala makhluk selanjutnya kelak di akhirat akan disediakan baginya sorga.

Adapun tuduhan beberapa pihak bahwa para sufi menyembunyikan ilmunya, adalah tidak benar. Mereka para Nabi dan Rasul tidak pernah menyembunyikan apa yang telah disampaikan oleh Allah SWT.  Para Arif Billah juga bukanlah hendak menyembunyikan ilmunya (Ilmu Hakekat) namun penyampaian ilmu tersebut harus lebih hati-hati, harus disesuaikan dengan tingkat kecerdasan, gairah, ketekunan dalam beragama dan lain-lain.

Imam Hujjatul Islam Imam Ghazali r.a. dalam kitab “Ihya” menegaskan bahwa, siapapun yang tidak pernah memperoleh ilmu ini (ilmu batin) maka dikhawatirkan mereka mati dalam keadaan kekafiran. Dan orang-orang yang tetap kasih kepada dunia serta masih tetap pada kukungan hawa nafsunya, maka tidak akan pernah merasakan “tahkik/kemantapan” ilmu ini, meskipun dia telah berhasil dalam bidang ilmu-ilmu yang lain.

Orang yang telah mengingkari ilmu ini, bagaimanapun juga tidak akan pernah  bisa merasakan keindahannya, dan tidak mungkin pula mereka bisa mendapatkan “Mukassyafah” (terbukanya hijab/dinding) sebagaimana yang telah dialami oleh para Shiddiqiin dan Ahlul-Muqarrabiin. 

Mukasyafah adalah suatu gambaran yang mencerminkan tentang kebersihan hati, sehingga memancar cahaya kebenaran hidup yang diiringi pula dengan “Karomah” dan “Maqom Wilayah” (kewalian).

Itulah perlunya ada Ketekunan, Mujahadah (kesungguhan), Riyadoh (latihan), Muraqobah (intipan) dan Musyahadah (penyaksian) serta jangan sekali-kali mengingkari ataupun memusuhi para Ahlul Karimah, tetapi sebaiknya hendaklah selalu mengambil pelajaran dari mereka.

“Semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk dan kemudahan kepada kita untuk memahami segala ilmu-Nya”
Next
Posting Lebih Baru
Previous
This is the last post.

0 komentar:

Posting Komentar

Dilarang Menyematkan Link Aktif . . .! , Silakan Berkomentar Sesuai "Topik" Dengan Baik Dan Benar (No Porno dan SARA) ya.


Terima Kasih

 
AGHAS HIJAOE © 2016. All Rights Reserved
Template by Blogger Theme
Powered by Blogger
Top