Di zaman sekarang banyak diminati dan disebut-sebut adanya kelompok Para Normal, yang pada umumnya mereka mempunyai kemampuan di luar hukum-hukum kebiasaan, yang dalam bahasa Arab disebutkan “Khorikun Lil ‘Adat”.

Istilah Para Normal mulai populer sekitar dua atau tiga dasawarsa yang lalu, meskipun sebenarnya profesi Para Normal itu sudah ada sejak lama, malah sejak zaman animisme/dinamisme. Dari kalangan ummat islam juga banyak yang memiliki profesi ini, yang mampu melakukan sesuatu di luar kebiasaan/normal, hanya istilahnya saja yang mungkin berbeda.

Bagaimana sikap kaum muslimin/mukminin terhadap Para Normal dalam kaitannya dengan ajaran islam yang berhubungan dengan kedua hadist berikut:
  1. “Man Ataa Kaahinan Lam Tuqbal Shalaatuhu Arbi’iina Yaumaan Waman Amana Faqod kafara” ~ Siapa yang datang kepada Kahin/Para Normal maka tidak diterima sholatnya 40 hari, dan siapa yang percaya kepadanya, berarti Kufur.  
  2. “Innarruqyaa Wattamaa Imasyirku” ~ Sesungguhnya segala macam jampi-jampi dan ramal-meramal adalah syirik.
Bagi seoranga muslim harus mendasari keyakinannya bahwa iman  jauh lebih berharga dari kesembuhan. Tidak ada artinya kesembuhan itu kalau imanya  kepada Allah jadi hancur. Kenikmatan sembuh di dunia hanya sementara waktu, sedangkan hukum di akhirat dengan serba kepedihan dan kesakitan pasti akan dihadapi akibat kehancuran iman.

Jika seorang muslim yang sebagai penderita, sebaiknya datang kepada seorang Para Normal Muslim. Bacaan-bacaan yang digunakan tentu dengan ayat-ayat Al Qur’an atau Asma-Asma Allah SWT. Berdo’a tentu ditujukan kepada Allah Yang Maha Menyembuhkan. Petunjuk-petunjuk Rasulullah tentang pengobatan, pemeliharaan diri, mengatasi kesulitan hidup dan lain-lain, banyak sekali. Sampai kepada bacaan untuk, orang luka, sakit kepala, dan lain sebagainya (Baca kitab: Al-Adzkar ~ Imam Nawawi r.a.)

Khariqun lil ‘adat pada seorang Para Normal bisa saja diberikan oleh Allah dalam arti “istidraj”, yakni suatu pemberian Tuhan tanpa kasih sayang-Nya.

Sedangkan  Khariqun lil ‘adat yang terjadi pada Auliya, Arif, Ulama dan Muslimin/Mukminin yang awam, pemberian-Nya adalah sesuatu yang istimewa yang merupakan “Karomah/Kemuliaan” atau “Maunah/ Pertolongan”, yang merupakan suatu karunia Allah dengan penuh kasih sayang-Nya.

Hal ini tidak lain bertujuan, menghimbau khususnya kepada kaum Muslimin agar jangan sampai tergelincir Iman dan I’tikad nya kepada Allah. Bagaimanapun juga yang kita tuju adalah MUKASYAFAH RUBUBIYAH (Terbuka Tirai Ketuhanan). Sedang MUKASYAFAH GHAIBIYAH (Terbuka Tirai Keggaiban) bukanlah tujuan, tetapi patut disyukuri bila hak tersebut juga dikaruniakan Allah dengan cinta kasih-Nya.

0 komentar:

Posting Komentar

Dilarang Menyematkan Link Aktif . . .! , Silakan Berkomentar Sesuai "Topik" Dengan Baik Dan Benar (No Porno dan SARA) ya.


Terima Kasih

 
AGHAS HIJAOE © 2016. All Rights Reserved
Template by Blogger Theme
Powered by Blogger
Top