TENTANG NAFSU DIRI
Ketahuilah bahwa mengenal/menyadari diri itu adalah suatu hal yang amat penting bagi tiap individu atau perorangan. Karena siapa saja yang mengerti terhadap dirinya pasti dia akan mengerti tentang Tuhannya.

Tegasnya, siapa yang mengerti, mengenali, menyadari tentang dirinya yang hina dia, lemah, penuh kekurangan dan fana, pasti dia dapat mengenali, mengerti, menyadari terhadap Allah s.w.t. yang memiliki Kemuliaan, Kekuasaan, dan Keabadian. Begitu pula sebaliknya, siapa yang tidak mengerti tentang dirinya, berarti ia lebih tidak mengerti tentang Tuhannya.
Maka seharusnyalah orang yang benar-benar berakal menyingsingkan lengan bajunya untuk menuntut ilmu makrifat dengan penuh kesungguhan tanpa putus asa dan rasa lemah untuk menuntut, agar supaya jangan sampai terjadi, bila maut datang menjelang padahal dia mengidap penyakit buta karena kebodohan. Karena pabila sesudah kematian itu, tidak mungkin dia mendapat jalan terang, sebagaimana firman Allah s.w.t. :



Artinya :
Siapapun selagi masih hidup didunia ini tetap didalam kebutaan, maka di akhirat kelak dia akan lebih buta dan sesat jalan (QS. 17 : 72)

Selanjutnya hendaklah kita ketahui bahwa nanafsu/diri itu adalah suatu “lathifah rabbaniyah” (cahaya ketuhanan yang amat tulus).

Dan itulah dinamaka “Roh” sebelum dia berhubungan dengan jasad. Allah ciptakan roh-roh itu sebelum diciptakan jasad.

Pada waktu itu keadaan roh adalah bertetangga dengan Allah s.w.t. dan dekat sekali. Manakalah Allah perintahkan roh-roh tersebut untuk berhubungan dengan jasad, barulah roh-roh itu mengenal al-ghair (yang selain dari pada tuhan) maka sejak itulah roh-roh itu terdinding dari hidratul aqqi (hidrat ketuhanan).

Maka karena itulah roh-roh itu berjahat sekali kepada “Al-Mudzakkir“ (yang bisa memberi peringatan) sebagai mana firman Allah s.w.t. :

 

Artinya:
Dan tetaplah memberi peringatan (hai muhammad) karena ingat itu bermanfaat bagi orang yang beriman(QS.  51 :55).

Roh adalah suatu “jauhar yang cemerlang“ pada tubuh. Apabila jauhar itu memancar pada lahir dan batin seseorang, berhasillah ia mencapai tingkat kesadaran (yaqzhoh = bangun). Tetapi bila jauhar itu hanya memancar pada batin saja,tidak pada lahirnya, berarti orang demikian masih dalam keadaan tidur. Apabila terputus kecemerlangan jauhar tersebut berarti mati.



Pokok pangkal dari pada segala maksiat, kalalaian, nafsu syahwat dan syirik, adalah senang dan rela terhadap desakan hawa nafsunya sendiri. Apakah anda tidak memperhatikan bahwasannya Fir’aun adalaha pertanda orang yang rela terhadap desakan hawa. Nafsunya sendiri secara menyeluruh, sampai pada tingkatan pendurhakaan yang melebihi batas, hingga ia nerkata seperti tersebut didalam Al-Qur’an:



Artinya:
Akulah (fir’aun) yang maha tinggi(QS. 79 : 24).

Pokok pangkal dari segala macam ketaatan, kesadaran, kasih sayang dan musyahadah, adalah tidak ada kerelaan untuk menerima desakkan nafsu. Pada waktu itu tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seseorang dari pada mendidik/meneliti dirinya sendiri. Untuk penelitian itu dilihat dari kesan-kesan yang timbul pada nafsu, dengan melatih diri secara sungguh-sungguh pada tujuh tingkatan nafsu.

1)          NAFSU AMMARAH. (nafsu yang berperan memerintah kepada hal-hal yang jelek).
Nafsu ini cenderung kepada tabiat tabaniah, mendorong untuk berfoya-foya dengan kelezatan duniawai dan kebirahian yang terlarang menurut syara (hukum) dan menggeret/menarik-narik hati ke arah kerendahan, di sinilah tempat dari segala macam kejahatan dan sumber segala akhlak yang tercela seperti sifat sombong, tamak, syahmat, kedengkian, kemarahan membabi buta. Dan inilah suatu tingkatan yang umum bagi nafsu yang belum dilatih secara sungguh-sungguh (mujahadah).

2)          NAFSU LAWWAMAH.
Nafsu ini mendapat cahaya dengan cahaya hati, maka tunduklah ia kepada kekuatan akal sehat, tetapi kadang-kadang ia membangkang terhadap desakkan terhadap akal sehat itu, lalu timbul penyesalan dan jiwanya terasa sedih. Nafsu ini adalah sumber dari segala rasa penyesalan.

3)        NAFSU MUTHMA’INNAH (nafsu yang tenteram).
      Nafsu ini bercahaya dengan cahaya hati hingga terasa kosong dari sifat-sifat yang tercela dan tenang tenteram menuju kesempurnaan. Apabila seorang salik (penuntut) meletakkan pendiriannya pada jiwa yang tenteram ini, terhitunglah dia seorang ahli tariqat yang berpindah dari kehidupan warna-warni yang tak menentu kepada penghidupan tetap pada pendirian. Kawannya adalah mabuk ketuhanan, orang-orang yang telah sampai, membangunkannya. Penuh rasa katergantungan kepada tuhan yang maha tinggi.

4)        NAFSU MULHIMAH (jiwa yang mendapat ilham).
    Allah mengilhamkan kepadanya ilmu pengetahuan, rasa tawadlu’ (ketundukan hati) qona’ah (kesederhanaan) dan sakhawah (sifat murah hati). Hal itu adalah sumber dari kesabaran/tabah dan kesyukuran.

5)        NAFSU-ARRADLIYAH (jiwa yang rela)
     Nafsu ini adalah yang rela (ridlo) terhadap Allah (terhadap ketentuan Allah kepada dirinya) sebagaimana yang di firmankan Allah  ”WA RADLU ‘ANHU” (mereka rela kepadanya). Keadaan jiwa/nafsu ini adalah penuh penyerahan kepada Allah s.w.t. dan selalu merasa kelezatan dengan timbulnya “Hairah” karena nyatanya Allah buat dia, sebagai tersebut syi’ir.

      (ZIDNII BI FARTHIL HUUBBI TAHAAYYURAN, WARHAM HAASYAN LAZHOO HAWAAKA TASA’URAN).
     
Artinya:
Artian bebas – ya tuhan, tambahkan bagiku rasa hairah, karena cintaku padamu melebihi batas, sayangilah sepenuh panas membara.

6)        NAFSU AL-MADLIYAH (jiwa yang diridhai)
      Nafsu ini mendapat Ridho Allah, nampak bekas Ridho tuhan, mendapat karomah, ikhlas dan selalu ingat, pada tingkat inilah si salik meletakkan langkahnya yang pertama untuk makrifat kepada Allah dengan pengenalan yang benar, pada jiwa inilah merasakan tajalli Ap’al.

7)        NAFSU AL-KAMILAH (nafsu yang sempurna)
      Terjadilah kesempurnaan yang sepenuhnya, tercetak sebagai suatu tabiat yang mendalam, dengan ini meningkat terus pada tingkatan yang lebih tinggi lalu kemudian jiwa kamil lah ini mendorong untuk kembali kepada manusia, memberikan petunjuk-petunjuk kepada hamba Allah, maqamnya adalah maqam TAJALLI ASMA dan SHIFAT, dan keadaannya adalah BAQA BILLAH, berjalan dengan Allah, kepada Allah dan jiwa itu kembali dari Allah kepada Allah, tiada ruang dan tempat beginya kecuali Allah, ilmunya berfaedah dari pada Allah, sebagaimana diungkapkan dalam syi’ir ini:

(WA BA'DUL FANAA'I FILLAAHI KUN KAIFAMAA TASYAAU FA'ILMUKA LAA JAHLUN WAFI'LUKA LAAWIZRUN)
 
Artinya:
        Setelah fana fillah,
Jadilah apa yang anda mau,
Ilmumu, tiada kebodohan,
Tahu tingkahmu,tiada dosa.
 
AGHAS HIJAOE © 2016. All Rights Reserved
Template by Blogger Theme
Powered by Blogger
Top